For the Parents who Selfishly
Saya yakin para orang tua sebetulnya menyadari apa-apa yang mereka lakukan akan berdampak pada anak mereka,namun para orang tua tidak menanggapi hal tersebut dan tetap bertahan dengan egonya. contohnya:
Mr.Vix melakukan korupsi dengan jumlah yang tak terhitung, ketika tindakan korupsinya terkuak, media massa mulai menduduki kediamannya, wartawan mulai membuntuti setiap langkah keluarganya untuk mendapatkan informasi. Hukum negara memutuskan Mr.Vix bersalah dan dipenjara beberapa tahun. Bagaimanakah hidup keluarganya selanjutnya? bagaimanakah penerimaan anak-anaknya yang masih duduk dibangku sekolah?
atau..
Mr.Sue yang setiap hari cekcok dengan istrinya Mrs.Ang, Mr.Sue yang merasa berkuasa sebagai suami dan sang Istri yang merasa tidak di dengar dan di acuhkan. Pernikahan memang berjalan sampai berpuluh tahun, namun pertengkaran dari yang sepele sampai yang tak terkendali selalu terjadi mulai dari awal pernikahan. Keduanya bertahan karna alasan anak-anak dan ekonomi, namun apa yang dilihat anak-anak mereka setiap hari dari kecil hingga dewasa adalah ketidak harmonisan dalam keluarga. Sadarkah Mr.Sue dan Mrs.Ang bahwa pertengkaran mereka akan berpengaruh terhadap kepribadian anak-anak nya?
Dari semua hal ini memungkinkan terlahirnya kepribadian-kepribadian sang anak yang tidak diinginkan umumnya orang :
- Sifat pemberontak
- Sifat Apatis
- Sifat selfish
- keras kepala
- emosi yang tak terkontrol
- senang melihat orang lain terluka
Dari beberapa sifat diatas cukup untuk membuat seseorang melakukan tindakan kriminal, masuk dalam Narkoba, Seks bebas saat usia remaja, Bunuh diri,dan ketidakbaikan yang lain.
Ketika Sang anak memiliki salah satu sifat diatas dan membuat tidak nyamanan lingkungannya karna kepribadiannya tersebut maka siapakah yang pertama kali disalahkan?
Pada Umumnya... Anak itu sendiri dan Orang tuanya pun akan ikut menyalahkan anaknya.
Hal diatas dialami oleh banyak anak didunia ini. Lingkungan bahkan keluarga selalu menyalahkan seseorang yang bersifat emosional tinggi (atau sifat yang tidak baik lainnya) tanpa menelisik kenapa dia mempunyai sifat seperti itu.
Anak dengan usia immature bagaikan wadah kosong yang siap menerima apapun yang ada disekitarnya. ketika keburukan yang selalu menghampirinya membuat ia bersikap yang sama. setiap teriakan dari pertengkaran orang tua yang didengar ataupun setiap kesemrawutan lingkungan yang dia lihat membuatnya bersikap sama.
Tegakah kalian para orang tua membuat anak kalian seperti itu????
Semoga anak-anak yang mengalami hal seperti ini dapat bangkit dan menemukan jalan kebaikan untuk dirinya, dengan mendapatkan jati diri yang dapat bermanfaat dan berharga untuk lingkungannya.
Keharmonisan sesuatu yang memang tidak mudah namun juga tidak sulit untuk di wujudkan dalam rumah tangga, kuncinya hanya pada ego kita sebagai manusia dan Selalu Ingat Kepada Sang Pencipta.
by Ayu Alhakam
Selasa, 18 Desember 2012

